Rabu, 14 Juni 2017

TA'DIB,TA'LIM,TADRIB,AR-RIYADHAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam Islam, pendidikan menjadi suatu perhatian utama. Berdasarkan historisnya, hal ini sesuai Al quran, wahyu yang pertamakali diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW  mengandung perintah membaca  yang mana membaca itu adalah salah unsur penting dari pendidikan itu sendiri, seperti yang tercantum dalam ayat 1 – 5 surat Al- ‘Alaq.
Dalam pendidikan semua orang memiliki kapasitas untuk belajar. Hal ini ditegaskan Allah dalam ayat 2 surat Al-Fatihah. Disini juga menerangkan tentang peran Allah dalam pendidikan.
Pendidikan memiliki pengertian yang luas sehingga muncullah berbagai istilah dalam Islam tentang pendidikan itu sendiri sehingga muncullah berbagai istilah dalam kosa kata bahasa arab antara lain tarbiyah, ta’dib, ta’lim, riyadhah, dan tadrib. Dari kelima kosa kata di atas yang yang paling popular diperdebatkan oleh beberapa pemikir islam adalah tarbiyah, ta’lim dan ta’dib.
Adapun tujuan pembahasan tema ini adalah untuk mengetahui pengertian tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadhah, dan tadrib. Karena masing- masing memiliki karakteristik yang yang berbeda dari segi implikasinya.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pendidikan ?
2.      Apa yang dimaksud dengan pendidikan Islam ?
3.      Apa macam-macam istilah yang dikenal dalam pendidikan Islam ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pendidikan
Definisi pendidikan dikemukakan para ahli dalam rumusan yang beraneka ragam, antara lain sebagai berikut:
1.      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan ialah:
Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
2.      Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 Ayat 1 dikemukakan:
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
3.      Jamil Shaliba dari Lembaga Bahasa Arab Damaskus mengemukakan bahwa pendidikan (Arab, at-tarbiyah, Perancis, education, Inggris, educatin, culture, Latin, educatio) ialah pengembangan fungsi-fungsi psikhis melalui latihan sehingga mencapai kesempurnaannya sedikit demi sedikit.[1]
Pendidikan lebih daripada sekedar pengajaran, yang terakhir ini dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, bukan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Dengan demikian, pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan “tukang-tukang” atau para spesialis yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit, karena itu, perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis.

Jika sistem pendidikan Barat sekarang ini sering disebut-sebut mengalami krisis yang akut, itu tak lain karena proses yang terjadi dalam pendidikan tak lain daripada sekedar pengajaran.   
Perbedaan pendidikan dengan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik disamping transfer ilmu dan keahlian. Secara lebih filsofis Muhammad Natsir dalam tulisan “Idiologi Didikan Islam” menyatakan: “Yang dinamakan pendidikan, ialah suatu pimpinan jasmani dan ruhani menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya.
B.       Pengertian Pendidikan Islam
Dalam rangka yang lebih terinci, M. Yusuf al-Qardhawi memberikan pengertian, bahwa; “Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
Sementara itu, Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai suatu “proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[2]
Secara derivatif Islam itu sendiri, memuat berbagai makna, salah satu diantaranya yaitu kata Sullam yang makna asalnya adalah tangga. Dalam kaitan dengan pendidikan, makna ini setara dengan makna “peningkatan kualitas” sumber daya insani (layaknya tangga, meningkat naik).
Selain itu, Islam juga ditengarai sebagai bentukan dari kata istislam (penyerahan diri sepenuhnya keada ketentuan Allah), salama (keselamatan), dan salima, (kesejahteraan). Dengan demikian, secara terminologis pengertian Islam tak dapat dilepaskan dari makna kata asal dimaksud.

Untuk jelasnya, maka konsep pendidikan menurut pandangan Islam harus dirujuk dari berbagai aspek, antara lain aspek keagamaan, kesejahteraan, kebahasaan, ruang lingkup, dan aspek tanggung jawab. Adapun yang dimaksud dengan aspek keagamaan adalah bagaimana hubungan Islam sebagai agama dengan pendidikan. Sedangkan aspek kesejahteraan merujuk kepada latar belakang sejarah pemikiran para ahli tentang pendidikan dalam Islam dari zaman ke zaman, khusus ada tidaknya peran Islam dalam bidang pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan hidup manusia.
Kemudian yang dimaksud dengan aspek kebahasaan adalah bagaimana pembentukan konsep pendidikan atas dasar pemahaman secara etimlogi. Selanjutnya asek ruang lingkup diperlukan untuk mengetahui tentang batas-batas kewenangan pendidikan menurut agama Islam.
Untuk mengetahui hal itu perlu pula digunakan pendekatan yang didasarkan kepada aspek tanggung jawab kependidikan itu sendiri. Tanggung jawab dalam pandangan Islam sangat penting, sebab ia merupakan bagian dari amanat yang harus dilakoni oleh manusia. Sehubungan dengan itu, maka Islam dalam ajarannya senantiasa menempatkan kewajiban lebih dulu, baru sesudah itu penuntutan terhadap hak. Makanya manusia harus mendahulukan kewajiban pengabdiannya kepada Allah, sesudah itu baru diberi hak (peluang) untuk mohon pertolongan. (QS. 1: 4-5).[3]
Di dalam masyarakat Islam sekurang-kurangnya terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menandai konsep pendidikan, yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Istilah yang berkembang secara umum di dunia Arab adalah tarbiyah. Penggunaan istilah tarbiyah untuk menandai konsep pendidikan dalam Islam, meskipun telah berlaku umum, ternyata masih merupakan masalah khilafiyah (kontraversial). Di antara ulama pendidikan muslim kontemporer ada yang cenderung menggunakan istilah ta’lim atau ta’dib sebagai gantinya.[4]



C.      Macam-Macam Istilah Dalam Pendidikan Islam
1.    At-Ta’dib
Adab adalah disiplin tubuh, jiwa dan ruh, disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan jasmaniah, intelektual, dan ruhaniah, pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajatnya.
Kita nyatakan bahwa adab dikenal sebagai ilmu tentang tujuan mencari pengetahuan. Tujuan mencari pengetahuan dalam Islam ialah menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai makhluk sosial sebagai diri individu.  Baik dalam konsep manusia yang baik berarti teat sebagai manusia adab dalam pengertian yang dijelaskan disini, yakni meliputi kehidupan material dan spiritual manusia.
Bagi al-Attas konsep ta’dib untuk pendidikan Islam adalah lebih tepat dari at-Tarbiyah dan at-Ta’lim.[5] Sedangkan tarbiyah dalam pandangannya mencangkup objek yang lebih luas, bukan saja terbatas pada pendidikan manusia tetapi juga meliputi dunia hewan. Sedangkan ta’dib hanya mencakup pengertian pendidikan untuk manusia.[6] Sementara Dr. Fatah Abdul Jalal beranggapan sebaliknya karena yang lebih sesuai menurutnya justru at-Ta’lim. Nabi SAW, bersabda:
أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ
Dari Ibnu Mas’ud: Tuhanku telah mendidikku, dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik (HR. Ibnu Sam’ani) (Al-Suyuthi, Jamius Shagir I: 14).
Kedatipun demikian, mayoritas ahli kependidikan Islam tampaknya lebih setuju mengembangkan istilah tarbiyah (pendidikan, education) dalam merumuskan dan menyusun konsep pendidikan Islam dibandingkan istilah ta’lim (pengajaran, instruction) dan ta’dib (pendidikan khusus, bagi al-Attas berarti pendidikan), mengingat cakupan yang mencerminkannya lebih luas, dan bahkan istilah tarbiyah sekaligus memuat makna dan maksud yang dikandung istilah ta’lim dan ta’dib.
Dengan jelas dan sistematik, al-Attas menurunkan penjelasan sebagai berikut:
1.      Menurut tradisi bahasa Arab, istilah ta’dib mengandung tiga unsur: pembangunan iman, ilmu, dan amal. Iman adalah pengakuan yang realisasinya harus berdasarkan ilmu. Iman tanpa ilmu adalah bodoh. Sebaliknya, ilmu harus dilandasi iman. Ilmu tanpa iman adalah sombong. Dan akhirnya iman dan ilmu dimanifestasikan dalam bentuk amal, sehingga tidak dikatakan iman yang lemah dan ilmu yang tidak bermanfaat.
2.      Dalam hadits Nabi yang terdahulu secara ekplisit dipakai istilah ta’dib dari addaba yang berarti mendidik. Cara Tuhan mendidik Nabi, tentu saja mengandung konsep pendidikan yang sempurna.
3.      Dalam kerangka pendidikan, istilah ta’dib mengandung arti: ilmu, pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena menurut konsep Islam, yang bisa dan bahkan harus dididik adlah manusia.
4.      Dan akhirnya, al-Attas menekankan pentingnya pembinaan tatakrama, sopan-santun, adab dan semacamnya, atau secara tegas, akhlak yang terpuji yang hanya terdapat dalam istilah  ta’dib.
Konsekuensi yang timbul akibat tidak dipakainya konsep ta’dib sebagai pendidikan dan proses pendidikan adalah hilangnya adab, yang berarti hilangnya keadilan yang menimbulkan kebingungan dan kesalahan dalam pengetahuan, yang mana itu terjadi di kalangan muslimin masa kini. Berkenaan dengan masyarakat dan umat, kebingungan dan kesalahan dalam “pengetahuan” tentang Islam menciptakan kondisi yang memungkinkan pemimpin-pemimpin yang palsu dalam segala bidang kehidupan bisa tampil dan tumbuh subur serta akan menimbulkan kondisi kezaliman.[7]

2.    At-Ta’lim
Menurut Abdul Fatah Jalal, proses ta’lim justru lebih universal dibandingkan dengan proses tarbiyah. Ia mengutip al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 30-34 sebagai berikut:
31.       Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama (semua) benda ini jika kamu yang benar!"
32.       Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."
33.       Allah berfirman, "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu." Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Allah berfirman: "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Menurut Jalal, dalam ayat-ayat itu terkandung pengertian bahwa kata ta’lim jangkauannya lebih jauh, serta lebih luas dari pada kata tarbiyah. Kemudian Jalal mengutip ayat 151 surah al-Baqarah:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.
Bedasarkan ayat ini, menurut Jalal, kita mengetahui bahwa prose ta’lim lebih universal dibandingkan dengan proses tarbiyah. Sebab ketika mengajar bacaan al-Qur’an kepada kaum muslimin, Rasul SAW tidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat membaca, tetapi membaca dengan perenungan yang berisi pemahaman, tanggung jawab dan amanah. Dari membaca seperti ini Rasul membawa mereka pada tazkiyah (penyucian) diri dan menjadikan diri itu berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-Hikmah. Kata al-Hikmah berasal dari kata al-Ihkam, yang berarti kesanggupan didalam ilmu, amal, atau didalam kedua-duanya.
Jadi, berdasarkan analisis diatas itu Jalal menyimpulkan bahwa menurut al-Qur’an, ta’lim lebih luas dari tarbiyah. Berbeda dengan al-Attas, Jalal tidak membandingkan dengan ta’dib.[8] Jalal mengemukakan konsep-konsep pendidikan yang terkandung didalamnya sebagai berikut:

Pertama, ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus-menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan funsi-fungsi pendengaran, penglihatan, dan hati. Kedua, ta’lim tidak berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kgnisi semata, tetapi terus menjangkau wilayah psikomotor dan afeksi.[9]
3.      Ar-Riyadhah
Zakiyah Daradjat sebagaimana dikutip oleh Ramayulis mengatakan bahwa pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang berhubungan dengan tubuh manusia. Ia memegang peranan penting dalam semua tingkah laku dan amal perbuatannya, baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesamanya dan makhluk lainnya.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka Ramayulis mengatakan bahwa mendidik jasmani dalam Islam adalah memiliki dua tujuan sekaligus, yaitu pertama, membina tubuh sehingga mencapai pertumbuhan secara sempurna. Kedua, mengembangkan energi potensial yang dimiliki manusia berlandaskan fisik, sesuai dengan perkembangan fisik manusia. Sedangkan Abdurrahman Saleh menambahkan bahwa pendidikan harus mempunyai tujuan ke arah keteramilan-keterampilan fisik yang dianggap perlu bagi teguhnya keperkasaan tubuh yang sehat, juga menghindari situasi-situasi yang mengancam kesehatan fisik para pelajar.
Fisik adalah cover bagi semua komponen rohaniah manusia yang harus dijaga kesehatannya. Sebab antara jasmaniah dan rohaniah mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Jika salah satu dari keduanya sakit, maka kualitas keduanya akan merosok dan bahkan akan menjadi fatal.[10]
Ar-Riyadhah berasal dari kata raudha, yang mengandung arti penjinakan, latihan, melatih. Dalam pendidikan, kata Ar-Riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dan akhlak mulia. Kata Ar-Riyadhah selanjutnya banyak digunakan dikalangan para ahli tasawuf dan diartikan agak berbeda dengan arti yang digunakan para ahli pendidikan dikalangan para ahli tasawuf Ar-Riyadhah  diartikan latihan spiritual rohaniah dengan cara khalwat dan uzlah (menyepi dan menyendiri) disertai perasaan batin yang takwa.[11]
4.    At-Tadrib
Tadrib disini lebih kepada ranah psikomotorik cakupannya, anak didik dilatih menjadi dan memiliki keperibadian yang tinggi, dan mampu melakukan dan meng-aplikasikan pengetahuan serta mengamalkannya dengan baik dan benar. Dengan demikian anak didik menjadi orang yang beramal saleh dan kemudian mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.
Melalui pelatihan-pelatiahan yang terus menerus dan berulang-ulang dalam pembelajaran akan memberi bekas pada diri anak didik, sehingga pembelajaran benar-benar terserap dan tahan lama. Dengan demikian anak didik dapat memiliki potensi-potensi kemudian ahli di bidangnya.
Dalam pendidikan islam tadrib sangat ditekankan penerapannya, bukan sebagai kognitif sahaja yang tidak berpengaruh apa-apa bagi anak didik, akan tetapi harus ada tadrib yang bisa dijadikan pedoman dalam pengamalan ibadah khususnya dan perilaku secara umum. Dengan demikian tujuan pendidikan Islam benar-benar terlaksana dan pencapaian yang maksimal. Tidak sebatas teori dan kurikulum yang wajib diikuti disetiap jam kelasnya. Akan tetapi ada keterikatan antara pembelajaran dengan kehidupan lingkungan anak didik yang nyata.[12]
Dari sisi beban tanggung jawab agamanya, maka perjalanan hidup manusia terbagi dalam tiga periode: masa pra-latih (di bawah 7 tahun), masa pelatihan/ tadrib (7 - 12 tahun), dan masa pembebanan/taklif (di atas 12 tahun).[13]

D.      Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam
Prof. Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany menyatakan bahwa dasar pendidikan Islam identik dengan dasar tujuan Islam. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qur’an dan Hadits. Atas dasar pemikiran tersebut, maka para ahli didik dan pemikir pendidikan Muslim mengembangkan pemikiran mengenai pendidikan Islam dengan merujuk kedua sumber utama ini, dengan bantuan berbagai metode dan pendekatan seperti qiyas, ijma’, ijtihad, dan tafsir. Sedangkan tujuan pendidikan dihasilkan dari rumusan kehendak dan cita-cita yang akan dicapai, yang menurut pertimbangan dapat memberi kebahagiaan dan makna hidup bagi manusia, baik dunia maupun akhirat.[14]

E.     Konteks kekinian
Dalam konteks kekinian khususnya pada era modern ini banyak yang berubah dalam dunia pendidikan, yang dimana telah hilangnya konsep ta’dib dalam dunia pendidikan. Menurut gagasan al-Attas tentang konsep ta’dib di dunia kontemporer saat ini adalah suatu hal yang perlu disambut positif. Sebab, dunia pendidikan Islam kita belum menemukan bentuk yang ideal untuk mencetak generasi ilmuan muslim unggul yang bisa berbuat banyak dalam kancah dunia. Apalagi, ilmu-ilmu yang terwesternized menjadi konsumsi publik dunia perlu diislamkan demi menegakkan peradaban Islam yang bermartabat. Dunia pendidikan Islam, sudah saatnya mengkonsentrasikan diri untuk membentuk manusia-manusia yang beradab. Itu hanya bisa dilakukan jika dunia pendidikan mengajarkan ilmu yang benar secara integratif.
 Sedangkan ta’lim, Ar-riyadhah dan At-ta’dib merupakan hal yang masih berlaku di dalam dunia pendidikan islam khususnya, di karenakan ketiga aspek tersebut mudah diterapkan dalam pendidikan islam.
















BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
ü  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan ialah: Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
ü  M. Yusuf al-Qardhawi memberikan pengertian, bahwa; “Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
ü  Di dalam masyarakat Islam sekurang-kurangnya terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menandai konsep pendidikan, yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib.
ü  Dasar pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan Hadits, dengan bantuan berbagai metode dan pendekatan seperti qiyas, ijma’, ijtihad, dan tafsir.  
B. Saran
Pemakalah menyadari dalam makalah ini masih banyak sekali kekurangan dan jauh dari kesan “sempurna”. Oleh karena itu, kritik dan saran yang kontruktif sangat pemakalh harapkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Akhirnya semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Amiin.




DAFTAR PUSTAKA
Aly, Hery Noer, 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, Jakarta: Logos.

Azra, Azyumardi, 2002, Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Cet. IV, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Jalaluddin, H, 2003, Teologi Pendidikan, Cet. 3, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

R, Marzan, 2007, Pendidikan Sepanjang Hayat Dalam Islam, Banda Aceh: Pena.

Rosyadi, Khoiron, 2004, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.







[1] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, ( Jakarta: Logos, 1999 ), hal. 2-3.
[2] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Cet. IV, ( Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002 ), hal. 5.
[3] H. Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Cet. 3, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003 ), hal. 70-71.
[4] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, ( Jakarta: Logos, 1999 ), hal. 3-4.
[5] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 ), hal. 138-139.
[6]  Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Cet. 3, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003 ), hal. 73.

[7] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 ), hal. 139-141.

[8] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 ), hal. 142-145.


[9] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, ( Jakarta: Logos, 1999 ), hal. 7-8.
[10] Marzan R, Pendidikan Sepanjang Hayat Dalam Islam, ( Banda Aceh: Pena, 2007 ), hal. 12-14.
[14]  Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Cet. 3, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003 ), hal. 82.